Jatim Media Summit 2026: Ruang Penuh Semangat di Surabaya, Membayangkan Masa Depan Ekonomi Kreatif dan Media Jatim
Kamis pagi, 30 Juli 2026, udara di
dalam ballroom Whiz Luxe Spazio Surabaya terasa hangat dan berdenyut
antusiasme.
Cahaya lampu sorot lembut menyinari
panggung, sementara di bagian depan, layar LED raksasa berpendar warna-warni
dengan tulisan tegas yang menjadi pusat perhatian semua mata: Ekosistem Ekonomi
Kreatif & Transformasi Beyond Media Jawa Timur, lengkap dengan tanggal dan
lokasi acara yang tertata rapi di bawahnya.
Di sepanjang ruangan, ratusan kursi
sudah penuh terisi oleh peserta dari berbagai kalangan—wartawan, pelaku
kreatif, pengusaha UMKM, hingga perwakilan instansi pemerintah.
Beberapa di antaranya sibuk mencatat
di buku catatan, yang lain mengarahkan ponsel mereka ke arah panggung, siap
mengabadikan setiap momen berharga dari Jatim Media Summit 2026.
Saat acara resmi dimulai, suasana
hening sejenak sebelum kemudian pecah dengan tepuk tangan meriah menyambut para
tamu utama yang berjalan menuju panggung.
Hadir sebagai pusat perhatian, Menteri
Ekonomi Kreatif sekaligus Kepala Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia,
Teuku Riefky Harsya, tampil dengan penampilan yang berwibawa namun ramah:
mengenakan kemeja batik bermotif ukir khas Nusantara berpadu warna cokelat tua
dan biru keabu-abuan, kacamata bingkai tipis yang menambah kesan intelek, serta
senyum hangat yang sesekali tersungging saat menyapa peserta.
Di sampingnya, dua tokoh media ternama
bersiap menyampaikan pandangan mereka: CEO Suara.com Suwarjono dan CEO
Beritajatim.com Dwi Eko Lokononto, keduanya membawa aura pengalaman yang dalam
tentang dinamika industri media di tanah air.
Suasana makin hidup saat giliran
Suwarjono naik ke podium. Suaranya yang tegas namun mengalir memenuhi ruangan
saat ia menyampaikan pernyataan yang membuat banyak peserta mengangguk setuju:
"Media saat ini bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga sudah
menjadi bagian dari ekonomi kreatif itu sendiri."
Di saat ia mengucapkan kalimat itu,
beberapa peserta terlihat berhenti mencatat sejenak, merenungkan maknanya.
Kilatan layar ponsel berkedip lebih cepat di sepanjang ruangan, seolah semua
orang ingin menyimpan momen pernyataan yang begitu mendasar itu.
Benar saja, di era sekarang, media
tidak lagi sekadar corong berita—ia adalah ruang tempat lahirnya konten-konten
kreatif yang membius, jembatan yang menghubungkan pelaku UMKM dengan pasar
luas, ladang yang menumbuhkan talenta-talenta baru, bahkan mesin yang membuka
ribuan lapangan kerja di bidang yang dulu tak pernah terbayangkan.
Giliran berikutnya, Dwi Eko Lokononto
melangkah ke podium dengan langkah mantap. Saat ia mulai berbicara, nada
bicaranya penuh kebanggaan yang tulus terhadap tanah kelahirannya: "Jawa
Timur menjadi Provinsi yang kreatif dan Media harus menjadi bagian penting di
dalamnya."
Kalimat itu disambut dengan tepuk
tangan yang lebih keras lagi, terutama dari peserta asal Jatim yang hadir.
Bayangan akan kekayaan provinsi ini
seolah terbayang jelas di benak setiap orang: aroma kuliner legendaris yang
mengepul dari pasar-pasar tradisional, keindahan kriya anyaman dan ukiran kayu
yang dibuat dengan ketelitian tinggi, warna-warni fashion lokal yang mulai
mencuri perhatian nasional, hingga hiruk-pikuk talenta konten kreator muda yang
jumlahnya terus bertambah tiap hari.
Di tengah gambaran itu, peran media
menjadi semakin nyata—bukan lagi sekadar pengamat, melainkan pengangkat,
penguat, dan penghubung yang akan membawa semua potensi itu melompat lebih
jauh, menembus batas provinsi bahkan negara.
Puncak acara tiba saat Menparekraf
Teuku Riefky Harsya berdiri di balik podium. Saat ia mulai menyampaikan
pandangannya, ruangan menjadi benar-benar hening, hanya terdengar suara pena
yang menggores kertas dan sesekali klik kamera.
Dengan nada bicara yang meyakinkan
namun tetap akrab, ia pertama-tama memberikan pujian yang membuat dada warga
Jatim berbangga: "Jawa Timur merupakan daerah yang cukup maju dan
kreatif." Kalimat itu seperti menegaskan kembali apa yang selama ini
dirasakan banyak orang, namun diucapkan dengan otoritas yang memberikan bobot
lebih besar.
Lebih jauh lagi, beliau membuka fakta
yang menyentuh sisi kehidupan banyak orang, dengan penekanan yang jelas pada
setiap kata: kreativitas yang dikembangkan dengan serius di industri kreatif,
katanya, bisa menjadi solusi nyata untuk mengentaskan pengangguran terbuka.
Tidak hanya itu, ia menambahkan dengan nada yang penuh harapan, sektor ini
mampu mengangkat pendapatan seseorang—"dari yang biasanya UMR
saja"—menjadi angka yang jauh lebih layak, sebanding dengan kualitas karya
yang dihasilkan. Saat poin itu disampaikan, beberapa peserta terlihat saling
berpandangan dengan senyum optimis, seolah melihat peluang baru yang selama ini
mungkin terlewatkan.
Beliau kemudian menutup pemaparannya
dengan pernyataan yang menggema di seluruh ruangan: "Ekonomi kreatif kini
diposisikan sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional." Begitu
kalimat terakhir diucapkan, tepuk tangan bergemuruh lama, memenuhi setiap sudut
ballroom, seolah semua orang setuju bahwa ini adalah titik balik yang penting.
Sepanjang sesi tanya jawab yang
berlangsung setelahnya, suasana tidak kalah hangat. Banyak tangan terangkat
tinggi dari berbagai penjuru ruangan—ada yang ingin menanyakan strategi konkret
mengembangkan ekosistem kreatif di daerah terpencil, ada yang berbagi
pengalaman sulit mengembangkan usaha kreatif, ada juga yang mengajukan ide
kolaborasi baru antara media dan pelaku usaha.
Diskusi berjalan mengalir, sesekali
diselingi tawa kecil saat ada candaan ringan yang memecah ketegangan, namun
tetap terfokus pada tujuan bersama. Setiap jawaban dari para pembicara selalu
disambut dengan anggukan kepala dan tepuk tangan yang tulus.
Saat rangkaian acara akhirnya usai,
ruangan tidak langsung kosong. Para peserta berkerumun dalam kelompok-kelompok
kecil, berlanjut berdiskusi dengan semangat yang tidak luntur, bertukar kartu
nama, atau sekadar berbagi kesan tentang apa yang baru saja mereka dengar.
Wajah-wajah yang terlihat saat keluar
dari ballroom tidak lagi sama seperti saat masuk—semuanya membawa cahaya
semangat baru, wawasan yang lebih luas, dan keyakinan bahwa apa yang dibahas
hari ini bukan sekadar wacana.
Jatim Media Summit 2026 memang hanya
berlangsung satu hari, namun jejak yang ditinggalkannya terasa jauh lebih
dalam. Ia bukan sekadar acara ngobrol di ruang mewah, melainkan titik temu di
mana semua pihak mulai melihat jalan yang sama: jalan di mana media dan ekonomi
kreatif berjalan beriringan, membawa Jawa Timur melangkah lebih jauh ke masa
depan yang lebih sejahtera, lebih kreatif, dan lebih diperhitungkan di peta
nasional maupun dunia.

Posting Komentar